Apakah Ubuntu Lebih Cocok Pakai KDE Ketimbang GNOME?

Mulai tahun 2018, Ubuntu menggunakan GNOME sebagai desktop environment default pengganti Unity. Keputusan ini relatif diterima oleh masyarakat mengingat sejak dulu Ubuntu lebih ramah GNOME. Sebagai catatan, Unity adalah shell grafis GNOME.

KDE Plasma

Desktop environment KDE Plasma

Namun, salah seorang pengguna GNU/Linux belum lama ini mengungkapkan alasan mengapa Ubuntu justru lebih pas pakai KDE Plasma alih-alih GNOME. Alex L menuliskan alasan-alasan tersebut di blog miliknya.

Yang pertama, KDE memiliki lingkungan yang mirip Windows. Alex mengasumsikan, umumnya pengguna Ubuntu merupakan mantan pengguna Windows. Dibandingkan dengan Unity dan GNOME 3, KDE memang salah satu desktop yang mengimplementasikan layout klasik, yang mirip Windows. “Pengguna Windows yang mencoba Linux hanya menginginkan lingkungan yang bisa langsung dipakai buat kerja. Saya lihat pengguna Windows yang mencoba Plasma pertama kali puas, mulai bekerja, dan setelah itu (berhari-hari, berminggu-minggu) mereka mengkustom UI dan mengeksplor alur kerja (workflow) baru, mungkin saat mereka punya waktu luang dan saat tidak stres dengan pekerjaan,” tuturnya.

Kedua, KDE memiliki paket-paket Look&Feel di KDE Store yang mengijinkan pengguna mengubah tampilan KDE seperti Unity.

Ketiga, KDE bisa menjadi apapun, dari desktop sederhana hingga desktop intuitif yang kaya fitur. Berbanding terbalik dengan GNOME yang mencoba untuk sederhana, “[..] yang berarti ia menjadi produk yang sangat elegan sekaligus kekurangan fitur-fitur yang sangat penting untuk produktivitas.”

Yang keempat, adanya Plasma Mobile sangat menguntungkan. Apalagi sistem operasi mobile alternatif Android ini bisa menjalankan Qt dan QML serta aplikasi Ubuntu Touch.

Kelima, Alex L menyatakan ide original konvergensi (convergence) berasal dari KDE sehingga desktop ini membawa semangat konvergensi yang selama ini digaung-gaungkan Canonical dengan Unity 8 nya. Canonical bisa meneruskan visi konvergensinya dengan memanfaatkan Ubuntu Touch, Plasma Mobile, dan Kirigami.

Keenam, masa depan akan berisi teknologi koneksi antara desktop dan mobile dengan lebih baik. Lihat saja aplikasi KDE Connect, Nexcloud yang menyediakan fitur sinkronisasi antara Android dan desktop. Nah .. menurut Alex, Kirigami merupakan perangkat lunak lintas-platform (desktop; GNU/Linux, Windows, macOS. Mobile; Android, iOS, Plasma Mobile) yang bisa dimanfaatkan Canonical untuk membangun Ubuntu yang lebih baik.

Ketujuh, KDE menggunakan Qt di mana ia adalah perangkat lunak industri untuk segala platform baik desktop Windows, macOS, maupun platform mobile Android dan iOS. Berbeda dari GTK+ yang hanya fokus ditujukan untuk desktop GNU/Linux. “Di saat banyak pengembang memilih Gtk untuk (membangun) aplikasi Linux, jika tujuannya untuk mempromosikan FOSS kita harus membukanya ke platform lain dan seperti yang saya bilang, khususnya di Android dan iOS karena kita belum memiliki platform alternatif mobile (yang besar),” imbuhnya.

Yang Kedelapan, KDE memiliki proyek KDE neon yang mempermudah para pengguna untuk berkontribusi. KDE neon memiliki image docker yang bisa dipakai untuk menguji KDE tanpa perlu mengunduh dan menjalankan KDE neon full system. Potensi-potensi yang dibawa KDE neon tentu akan mempermudah Canonical untuk ikut menguji KDE di Ubuntu.

Kesembilan, KDE terintegrasi dengan KDE Store, toko aplikasi yang dapat dipakai pengguna untuk mengunduh beragam addons, widget, tema, ikon, dll tanpa perlu mengunjungi situs resminya. Menurut Alex, Google Play Store dan Apple Store adalah dua contoh sukses toko aplikasi yang ada di era ini.

Kesepuluh sekaligus terakhir, Breeze merupakan tema yang modern dan menarik, bahkan produk non-KDE pun memanfaatkannya seperti LibreOffice yang memakai ikon Breeze.

Sepuluh pendapat yang menarik. Menurut Anda, apakah Anda setuju dengan opini di atas? Atau ada ide lain dari Anda? Monggo berikan komentar di bawah ini. ๐Ÿ™‚

Ramdziana F Yustitianto

Ramdziana adalah seorang narablog, pecinta kode, penggemar open source, pengguna GNU/Linux, dan penggemar Sherlock Holmes. Ikuti akun Twitter/Sebangsa @ramdziana

You may also like...

  • Ali

    Saya kurang tertarik kalau dijadiin KDE. Apalagi kalau alasannya, KDE mirip Windows. Sebetulnya ane kurang setuju klo distro itu DE nya dimiripkan sama Windows. Yang namanya migrasi, kudunya lingkungnya harus betul-betul berbeda, biar cepet beradaptasi. Kalo sama nanti berfikirnya jadi sama juga ๐Ÿ˜

    Juga untuk alasan ketiga. KDE ini terlalu banyak isi, akhirnya ane sendiri bingung pakenya. Gnome itu simpel dan elegan. ๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    Untuk alasan lainya sih setuju aja. Oiya Gnome on wayland ini masa depan Linux. Kudunya Ubuntu lebih milih ini.. ๐Ÿ™„๐Ÿ™„๐Ÿคฃ

    • Anjar Mukti Prakoso

      setuju gan, tapi saya lebi suka cinnamin siih

    • Ary Septian Pratama

      Sepakat. Saya juga sebenarnya setuju kalo Gnome kembali jadi desktop utamanya Ubuntu, walaupun sebenarnya saya juga ingin kalo MATE yang jadi desktop utama Ubuntu…