Majalah Linux Journal Ditutup

Tidak ada lagi majalah Linux Journal. Tepat hari Jumat, 1 Desember, Carlie Fairchild, sang pendiri majalah, mengumumkan bahwa edisi November adalah edisi terakhir majalah Linux Journal.

Bagi pengguna GNU/Linux kekinian mungkin saja tidak kenal dengan Linux Journal, tetapi bagi pengguna lawas, Linux Journal adalah pahlawan. Majalah ini terbit pertama kali pada tahun 1994, hanya selisih dua tahun sejak Linus Torvalds mengumumkan bahwa ia sedang mengerjakan sebuah sistem operasi.

Bahkan, majalah ini terbit saat open-source sendiri bukanlah kata baku, dan mayoritas perangkat lunak open-source menyebut diri sebagai free software dengan tambahan keterangan free as in speech, not as in beer (free dalam arti bebas berbicara, bukan dalam arti gratis bir) untuk membedakannya dengan freeware.

Berhentinya majalah Linux Journal dikarenakan kekurangan dana. “Fakta simpelnya adalah kami kekurangan uang, dan opsi-opsi yang menyertainya,” tulis Carlie.

“Sementara kami melihat masa depan layaknya penerbitan di masa lalu—​di saat para pengiklan mensponsori publikasi karena mereka menghargai merek dan pembaca—​dunia periklanan saat ini lebih memilih mengejar bola mata, lebih memilih menanam pelacak pada peramban pengguna dan menyodorkan iklan di manapun saat pembaca muncul. Namun masa depan tidak ada di sini, dan masa lalu sudah jauh pergi.”

Linux Journal
Gambar 1. Laman LinuxJournal.com

Bagi Anda yang penasaran, selama ini Linux Journal tidak menghasilkan pendapatan yang banyak. Hampir semua hal yang dilakukan, dikerjakan oleh sukarelawan, bahkan beberapa karyawan belum digaji selama berbulan-bulan, begitu juga dengan para pekerja lepas.

Dalam pos susulan yang ditulis oleh Kyle Rankin, penulis aktif di Linux Journal selama 10 tahun, ia menyampaikan, “dengan ditutupnya Linux Journal kita kehilangan advokasi untuk Linux, Open Source, dan open standar yang lebih kita butuhkan dari pada apapun. Kita juga kehilangan titik temu bagi diri kita dan komunitas yang masih mempercayai prinsip yang membawa kita untuk mulai menggunakan Linux.”

Agar terus hidup, adakah kemungkinan dibantu oleh pihak lain?

Satu-satunya jalan agar Linux Journal terus hidup adalah dari donasi, bantuan, atau dibeli/diakuisisi oleh orang yang berminat melanjutkannya. Jikapun ada yang membeli Linux Journal, mereka harus membayarkan beberapa utang, termasuk arsip, domain, dll.

Apakah Anda merupakan pelanggan Linux Journal? Apa kesan Anda terhadap majalah ini?

Bagikan:

Ramdziana F Yustitianto

Ramdziana adalah seorang narablog, pecinta kode, penggemar open source, pengguna GNU/Linux, dan penggemar Sherlock Holmes. Ikuti akun Twitter/Sebangsa @ramdziana

You may also like...