Pemblokiran Telegram, Langkah Gegabah Pemangku Kebijakan

Telegram

Telegram (Oyundelger luwsaa)

Telegram diblokir!

Hari ini (14 Juli), hampir semua grup obrolan Telegram yang saya ikuti sedang ramai membahas masalah tersebut. Pendeknya, pemblokiran Telegram dilakukan karena layanan ini dianggap menjadi media penyebar ideologi teroris dan materi pembuatan bom. Anda dapat membaca berita seputar masalah ini di sini.

Saya katakan, pemblokiran adalah keputusan gegabah. Ini terkesan, pemangku kebijakan lebih senang melakukan cara instan untuk memblokir segala hal-hal negatif yang berseliweran di dunia siber. Padahal, kalau kita mau ikut aturan Telegram, kita dapat melaporkan channel atau grup teroris (seperti ISIS) ke pihak pengelola Telegram dan dijamin tempat-tempat diskusi tersebut bakal dihapus/di-ban oleh pengelola. Sejak tahun 2015, Telegram telah melakukan hal tersebut.

Atau mungkin, para pemangku kebijakan lebih mengutamakan gengsi untuk mengikuti aturan entitas yang tidak terikat dengan negeri ini? Saya tak tahu.

Sebagai blog yang membahas dunia Linux dan open-source, di rubrik Opini ini saya tidak akan melanjutkan bahasan di atas dan akan mengutamakan bahasan nasib diskusi seputar implementasi FLOSS (Free/Libre Open Source Software) jika Telegram diblokir.

Jika Anda masih tertarik dengan fenomena pemblokiran Telegram akibat isu terorisme, silakan baca tulisan keren dari Markus Ra yang berjudul Don’t Shoot the Messenger.

Telegram dan FLOSS di Indonesia

Telegram adalah platform chat populer bagi para pegiat atau sekadar pengguna FLOSS tanah air. Buktinya, bila Anda bukan seorang pegiat dan pengguna FLOSS, saya yakin, saat Anda membuat akun di Telegram dan bertahan minimal sebulan di sana, Anda hanya akan disuguhkan dengan daftar kontak kosong tanpa diskusi. Tetapi, kalau Anda adalah pengguna atau pegiat FLOSS, mungkin daftar kontak masih kosong, tetapi ia akan menyuguhkan informasi dan ruang diskusi yang sangat aktif.

Di Indonesia, Telegram memang sangat aktif dipakai oleh pengembang dan pengguna FLOSS. Ada banyak sekali grup dan channel FLOSS di layanan chat ini, dari grup BGLI (Belajar GNU/Linux Indonesia), BLOI (Belajar LibreOffice Indonesia), GimpScape, IGOS Nusantara (yep, distro GNU/Linux lokal yang dikelola LIPI), BlankOn Linux, Ubuntu Indonesia, SinauDev, hingga grup/channel lain yang tak kalah hebatnya.

Terima kasih kepada Petani Kode yang telah mengumpulkan tautan-tautan grup dan channel Telegram lengkap di sini.

Jika Anda kuper dan tidak pernah menggunakan Telegram, saya beritahu, di sana banyak sekali orang yang peduli dengan kemandirian teknologi negeri ini dan akan kehilangan tempat diskusi nyaman jika Telegram benar-benar diblokir.

Mungkin, Anda akan bertanya, “loh gampang kan? Tinggal pindah tempat chatting?”

Yak, mungkin gampang. Tapi, bila Anda beralih ke IRC, Anda masih membutuhkan bot atau aplikasi tersendiri yang ditujukan untuk mencatat (log) percakapan, Telegram sudah memilikinya secara default, apalagi catatan ini tak akan memberatkan ruang penyimpanan perangkat Anda karena tersimpan di awan. Bila Anda beralih ke mailing list, layanan ini tidak cocok sebagai platform chat karena sifatnya yang tidak realtime. Mungkin, pengganti Telegram yang cocok adalah Wire. Tetapi, jika Wire semakin populer dan kemudian dituduh “mempromosikan terorisme”, apakah kejadian pemblokiran akan terulang? Pasti!

Saya rasa, pemblokiran Telegram kurang tepat. Para pemangku kebijakan alangkah baiknya berpikir jernih mengingat Telegram merupakan wadah diskusi informatif dan fungsional bagi para pegiat dan pengguna FLOSS.

Bagaimana pendapat Anda seputar pemblokiran Telegram?

Atau jika kita memang tidak bisa mempertahankan Telegram, layanan/aplikasi chat apa yang cocok dipakai sebagai penggantinya? Silakan berikan komentarnya di bawah ini.

Update (16-7-17):

Pavel Durov, pencipta Telegram, mengakui bahwa ada miskomunikasi dengan Kemkominfo. Senang melihat akses ke layanan Telegram akan segera normal. Sila cek cuitan Kabar Linux di tautan ini. Hasil retweet dari pak Damar Juniarto.

Ramdziana F Yustitianto

Ramdziana adalah seorang narablog, pecinta kode, penggemar open source, pengguna GNU/Linux, dan penggemar Sherlock Holmes. Ikuti akun Twitter/Sebangsa @ramdziana

You may also like...

  • Abu Brewok

    Yup, mungkin Wire atau Signal tapi tidak Whatsapp

  • Pratama

    Pak Menteri dan rekan2 staff KOMINFO. Mohon jangan bertindak gegabah dengan memblokir Telegram. Tunjukkan kreativitas Anda dengan membuat kebijakan lain yang lebih bijak. Banyak rakyat kecil yang memanfaatkan medsos Telegram untuk mencari nafkah (jual pulsa misalnya), pun saya pribadi dan banyak pegiat komunitas perangkat lunak bebas merdeka khususnya GNU/Linux. Memanfaatkan telegram sebagai ajang silaturahmi dan menimba ilmu.

    Jadilah menteri yang mampu mendengar suara rakyat.

  • iamstrong

    Inikah bentuk negara demokrasi?
    Mayoritas kebijakan hanya dilakukan sepihak saja
    Katanya disuruh melek teknologi, tapi apa? Dikit-dikit blokir, ini itu bermasalah blokir
    Zaman terus menerus berkembang. Kalau kita tidak mengikuti ya tertinggal.
    Saya kok jadi males ya dengar/baca berita yang selama ini beredar, mayoritas isinya menunjukkan kuasa penguasa. Iya tahu, derajat kalian paling tinggi dalam strata sosial tapi, ya tidak beginilah caranya! Semua ada prosedurnya.
    Kalau tidak ingin ada ancaman ya putus saja koneksi internet di seluruh Indonesia. Biarkan kita hidup seperti katak dalam tempurung.

    • inimah ada udang di balik batu, ada kepentingan2 tertentu di balik pemblokiran Telegram, buktinya sewaktu pengumuman pemblokiran telegram kominfo malah lansung ngumumin chanel resmi nya di Line . bener2 ada amplop di balik kata blokir

  • Saya sih sampai saat ini masih baik-baik saja kalau telegram diblokir. Toh tinggal edit sebaris kode di 1 file blokirnya langsung kebuka.
    Kalau pemerintah cerdas, pemblokiran ini bisa dijadikan 1 rangkaian momentum untuk berdikari. Sengaja ditutup, maklum, telegram produk luar negeri, katanya jangan banyak impor. Kode telegram terbuka dengan lisensi GPL baik v2 ataupun v3. Dimodif, taruh di server lokal, kasih domain .id biar keren, jadilah aplikasi “bukan telegram”

  • Teguh Broadway

    Klo baca2 berita yg berkaitan dg pemblokiran ini ada beberapa poin yg mjd perlu diperhatikan (government side): 1) Pemerintah sdh pernah melaporkan beberapa channel tetapi tdk ditanggapi Telegram, 2) Polisi pernah menyampaikan permintaan kepada Terlegram agar membuka akses khusus utk penanganan kejahatan terorisme dan narkoba, tetapi tdk ditanggapi Telegram, 3) Pemerintah menyadari bahwa pemblokiran Telegram web tdk sepenuhnya menutup akses terhadap Telegram krn Telegram masih bisa diakses melalui banyak cara, tetapi ini hanya utk menunjukkan kepada Telegram bahwa Pemerintah sangat serius dg masalah ini; sebelumnya Telegram sama sekali tidak mau membuka saluran komunikasi dg Pemerintah.