Petisi Ini Meminta Microsoft Rilis MS Office untuk GNU/Linux, Pentingkah?

Ramdziana F Yustitianto

Ramdziana adalah seorang narablog, pecinta kode, penggemar open source, pengguna GNU/Linux, dan penggemar Sherlock Holmes. Ikuti akun Twitter/Sebangsa @ramdziana

You may also like...

  • Google docs juga masih mampu kalau buat ngetik skripsi dan buat kantoran. ๐Ÿ‘ป

    • Oiya, saya lupa pak kalau ada Google Docs ๐Ÿค“

  • Ajib

    seandainya di dalam petisi ada opsi setuju atau tidak maka saya pilih tidak

    • Wah, opsi “tidak” dalam sebuah petisi tidak akan pernah ada mas hehe X)

  • Pratama

    Saya penasaran berapa banyak anggota komunitas GNU/Linux di Indonesia yang mengikuti filosofi Free Software Foundation (FSF), naungan R. M. Stallman. Seandainya banyak pasti tidak akan mendukung petisi ini dan memilih untuk terus berkontribusi kepada project Libre Office.

    Semenjak SMP Kelas 1 saya pengguna perangkat proprietary Microsoft Office dan berlanjut hingga bangku perkuliahan (terakhir MS office yang saya gunakan adalah 2010). Sedangkan di Distro Ubuntu saya menggunakan Office 2007 via Wine.

    Kini setelah mengenal GNU/Linux membaca filosofi FSF serta memahami latar belakang gerakan Open Source Initative (OSI), rasa-rasa nya kurang lengkap jika saya belum menguasai dan menggunakan Libre Office Writer untuk kegiatan pengetikan naskah tulisan sehari-hari. Proses belajar cukup berat memang, apalagi jika teman dan rekan kerja menggunakan format dokumen proprietary. Namun setelah saya coba kurang lebih selama 6 bulan Alhamdulillah saya sedikit demi sedikit mulai berhasil menemukan ritme kerja di Libre Office khususnya Writer.

    Kedepan saya rasa dengan semakin tumbuhnya nilai kesadaran untuk menggunakan perangkat lunak bebas merdeka, saya optimis komunitas pengguna Libre office di Indonesia akan semakin solid, dengan ditandai semakin banyak munculnya tutorial Libre Office berbahasa Indonesia.

    P.S: Pesan untuk PT Microsoft:

    Kalau memang serius untuk porting perangkat lunak Microsoft Office ke distribusi GNU/Linux, release lah dengan lisensi GPL sekalian, sehingga pengguna juga bisa memberikan kontribusi untuk pengembangan Microsoft Office menjadi lebih baik.

    Saya rasa ini merupakan salah satu bentuk Tanggung Jawab Sosial perusahaan yang nyata.

    ########################################################################################################
    Maaf Pak Ramdziana, panjang komentar saya XD

    • Saya rasa, banyak pengguna GNU/Linux praktis; instal, jelajahi, dan pakai. Menerapkan, mempertahankan, dan mempromosikan semangat FSF bukan hal yang mudah dan “produktif” ๐Ÿ™‚

      Tak apa-apa pak panjang, malah bisa jadi tambahan informasi buat yang mampir di blog ini ๐Ÿ˜‰

  • Abu Brewok

    MS Office adalah alasan utama saya menggunakan Windows sbg OS utama untuk Pekerjaan di kantor. Saya sempat mencoba LibreOffice namun terkendala kompatibilitas, sempat coba WPS Office, tp sy blm bisa menemukan yg sebaik Ms Office. Menggunakan wine bisa saja, tp tdk praktis mnrt saya, Office 2013 dgn wine masih ada bberapa bug. Tanpa mengurangi semangat open source, Saya harap Ms Office benar2 hadir secara native untuk Linux.

    • Pratama

      Kalau sebatas hadir tetapi tidak turut terbuka kode sumbernya bakal tidak sustainable Pak, sudah banyak perangkat lunak proprietary yang “sampat hadir” di GNU/Linux dan akhirnya melambaikan tangan. Sebut saja: Prezi, iMindMap, The Brain, etc. Alasannya sangat fundamental sekali: mayoritas para pengguna GNU/Linux itu punya semangat untuk belajar mendalami pemrograman, memberikan kontribusi, dan ndak pengen terikat sama vendor, -pun sekarang mulai bertebaran perangkat lunak word processor baru seperti Google Docs yang memberikan fitur alternatif tanpa perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli lisensi.

      EULA ndak akan pernah dilirik lagi sama pengguna GNU/Linux yang sudah matang dan tercerahkan. Barangkali dalam benak pikiran vendor (PT Microsoft), ngapain repot2 develop Office untuk pengguna Linux toh market share nya kecil sekali, dan kemungkinan besar nggak nutup biaya produksi. Lagipula coba njenengan rasakan sendiri, banyak kok pengguna GNU/Linux yang masih bisa produktif bekerja tanpa repot-repot menggunakan perangkat lunak Microsoft Office.

      P.S Hanya opini pribadi saya =)

    • Sepertinya masih ada cara lain yang bisa dijajal pak Abu, seperti yang saya sebut di atas.

      Antara pakai Softmaker Office, Office 365, atau jika MS Office 2013 masih terasa buggy di Wine, coba MS Office 2010 (beli juga Crossover biar dapat support langsung dari pengembang Crossover+Wine) ๐Ÿ™‚

      Semoga berhasil pak Abu ๐Ÿ˜‰

      • Abu Brewok

        Betul sekali mas, jika memang MS Office tdk bisa hadir secara native, saya tdk akan berhenti adaptasi dgn LibreOffice.

        Semoga LibreOffice semakin baik.

  • Tiap file yang saya kerjakan pakai LibreOffice dibuka di Windows, pada protes, tapi aku ga mau ngalah! Mereka harus install LibreOffice. Moh yowis. Hahahaha

    • Ada om Sasongko ๐Ÿ˜ฑ

      Mantap om, LibreOffice master race haha

  • Padahal di windows aja saya pake LibreOffice ๐Ÿ˜‚