Petisi Ini Meminta Microsoft Rilis MS Office untuk GNU/Linux, Pentingkah?

Sekitar dua atau tiga hari terakhir ini, para pengguna GNU/Linux dihebohkan dengan munculnya petisi yang meminta Microsoft merilis Microsoft Office untuk sistem operasi GNU/Linux.

Dalam deskripsinya, Ahmad Tohari selaku pembuat petisi menuliskan, “sejauh ini banyak sekali pengguna Linux di dunia, namun sayangnya belum ada Microsoft Office versi Linux sedangkan di mac sudah ada sejak versi 2011.”

Petisi

Laman petisi di change.org

Sampai artikel ini ditulis, petisi yang dikeluarkan via change.org ini hanya mendulang 54 suara. Bisa saja angka ini lebih besar jika si pembuat petisi menulisnya dalam bahasa Inggris mengingat pasarnya bakal lebih luas.

Ada apa dengan pengolah dokumen LibreOffice?

Bagi pengguna GNU/Linux, pasti tidak asing dengan perangkat lunak pengolah dokumen LibreOffice. Mayoritas diskusi via forum-forum perangkat lunak bebas/merdeka dan open-source (FLOSS) lokal maupun internasional, “masalah” utama LibreOffice adalah ia tidak kompatibel sepenuhnya dengan berkas MS Office (OOXML) di mana ia merupakan standar untuk berbagi dokumen di dunia.

Hal ini bisa dilihat dari sudut pandang teknis maupun ideologis.

Dari sisi teknis, LibreOffice merupakan proyek bebas/merdeka yang lebih mengutamakan standar terbuka Open Document Format (ODF). Tentu, ia juga mendukung OOXML (DOCX, XLSX, PPTX, dll) tapi tidak sesempurna MS Office yang memang pemilik standar OOXML.

Mungkin ada yang bertanya, apakah pengembang mampu membuat LibreOffice yang benar-benar kompatibel dengan OOXML? Saya rasa bisa. Bahkan sangat bisa. Namun, seperti yang saya sampaikan tadi, sejak dulu LibreOffice fokus untuk membangun lingkungan terbuka, yang tidak terikat dengan standar milik entitas tertentu (baca: Microsoft dengan OOXML-nya). Ini merupakan sudut pandang ideologis.

Saya rasa wajar jika banyak orang kecewa dengan LibreOffice yang tidak mendukung sepenuhnya OOXML. Tetapi, saya akan berdiri mendukung LibreOffic untuk terus menyajikan dokumen ODF yang sempurna nan paripurna alih-alih repot-repot berusaha mengikuti standar OOXML (terus baca selesai untuk melihat alasan saya).

Pentingkah petisi tersebut?

Antara penting dan tidak penting. Saya salut dengan mas Ahmad Tohari yang sangat peduli dengan para pengguna GNU/Linux yang sehari-hari bergelut dengan dokumen.

Pasar GNU/Linux desktop mungkin semakin banyak, tetapi ia hanya sebesar 2%, cukup wajar jika Microsoft masih tak berminat merilis Microsoft Office untuk sistem operasi ini. Okelah, pasar macOS juga kecil, tetapi pengguna macOS lebih terkenal sebagai pengguna yang jor-joran, yang tidak ragu mengeluarkan uang hanya untuk memperbarui dan membeli aplikasi, dibandingkan dengan pengguna GNU/Linux yang populer sebagai pengguna-mental-gratis (jangan tersinggung, anggapan ini cukup wajar kok).

Anggap saja petisi ini sukses dan Microsoft benar-benar merilis perangkat lunak pengolah dokumennya untuk GNU/Linux. Apakah Anda benar-benar akan membelinya? Atau lebih memilih mencari crack untuk mengaktifkannya?

Masih banyak pengguna GNU/Linux desktop, terutama pengguna distro tertentu, yang lebih suka menjebol akses Wi-Fi dan ribut membeli jasa ssh tunneling untuk mendapatkan akses internet gratis. Jujur, saya merasa tak memiliki harapan jika melihat fenomena ini.

Tak hanya di Indonesia, saat pengembang elementary OS “meminta” donasi ketika pengguna mengunduh ISO mereka, sebagian besar pengunduh pelit dan hanya mengisi angka “$0”, yang berarti mereka tak rela untuk mengirim donasi sebesar $1 pun. Saya tak memiliki data “sebagian besar”, tetapi seputar fakta ini bisa Anda baca via diskusi di slashdot.

Mungkin, satu hal penting dari petisi ini adalah untuk melihat seberapa banyak pengguna GNU/Linux, terutama pengguna dari Indonesia, yang peduli dengan kehadiran Microsoft Office di distro-distro yang mereka pakai.

Jangan asal ngomong, apa solusinya?

Dari alasan di atas, saya pikir Microsoft tak perlu merilis perangkat lunak Microsoft Office-nya untuk GNU/Linux dan masih ada hal lain yang bisa Anda lakukan selain meminta Microsoft melakukan hal tersebut.

  1. Tetap gunakan LibreOffice

    Bagi pengguna yang hanya perlu ketik ini itu, seperti saya, tanpa perlu berbagi dokumen dengan orang lain, yang berpotensi tidak kompatibel karena rekan kita menggunakan Microsoft Office, tetap menggunakan LibreOffice adalah hal yang menyenangkan dan penting.

    Dengan menggunakan LibreOffice, Anda secara langsung dan tidak langsung mempromosikan kebebasan yang merdeka, tak terikat dengan entitas tertentu dengan Open Document Format. Siapa tahu, di masa mendatang Andalah salah seorang yang sukses menyebarkan semangat keterbukaan format dokumen hingga pemerintah Indonesia resmi menjadikan ODF sebagai standar dokumen pemerintah. Kita jadi berdikari, tak tergantung dengan entitas atau perusahaan yang sewaktu-waktu bisa mencabut dan mengontrol standar buatan mereka.

    Anda punya uang berlebih? Akan lebih baik didonasikan ke proyek LibreOffice melalui laman donasi libreoffice.org.

  2. Gunakan WPS dan SoftMaker Office

    Jika Anda memang perlu berbagi dokumen OOXML (seperti DOCX), Anda bisa menggunakan WPS, produk pengolah dokumen dari Tiongkok, yang baru saja merilis versi baru di sini. WPS ini gratis tis tis.

    Namun, bila Anda lebih suka hal-hal premium silakan lirik SoftMaker Office. Dibandingkan dengan WPS Office Linux yang masih rilis Alpha, SoftMaker Office tentu lebih stabil dan fungsional (saya belum pernah menggunakannya, jadi tidak bisa memberikan testimoni). Dibandingkan Microsoft Office, harga SoftMaker Office juga lebih murah yakni $69,95 (sekitar Rp940.000) untuk edisi Standard dan $99,95 (sekitar Rp1,3 juta) untuk edisi Professional. Lengkapnya silakan lihat softmaker.com.

  3. Berlangganan Office 365

    Sederhananya, Office 365 adalah versi daring dari Microsoft Office. Beberapa bulan terakhir, dukungan Office 365 di peramban di GNU/Linux semakin bagus, sehingga ini bisa menjadi alternatif bagi yang ingin menulis dokumen OOXML di GNU/Linux.

    Microsoft menyediakan tiga paket langganan rumahan Office 365, dari 79,99 pound sterling pertahun untuk paket Home hingga 59,99 pertahun untuk paket Personal. Silakan lihat paket harganya di tautan ini.

  4. Beli Microsoft Office 2010 atau 2013

    Anda bisa memeriksa harga Microsoft Office 2010 dan 2013 di tautan ini. Kedua versi ini didukung dengan baik oleh perangkat lunak kompatibilitas layer Wine (untuk MS Office 2013 didukung Wine 2.0).

    Jika Anda tak ingin repot-repot membenahi masalah saat instalasi kedua versi MS Office tersebut di GNU/Linux, Anda dapat membeli CrossOver (Wine berbayar) dengan jaminan dukungan langsung dari pengembang CrossOver (di mana sebagian besar adalah pengembang Wine) di laman codeweavers.com.

Kesimpulan

Petisi untuk meminta Microsoft menghadirkan Microsoft Office di GNU/Linux menandakan makin banyak pengguna GNU/Linux yang solid dan ingin menjadikannya sistem operasi favoritnya semakin besar dan fungsional.

Di sisi lain, masih banyak hal produktif yang bisa dilakukan selain menunggu dirilisnya Microsoft Office untuk GNU/Linux, di mana saya merasa pesimis Microsoft akan melakukannya dalam satu dekade ke depan.

Bagikan:

Ramdziana F Yustitianto

Ramdziana adalah seorang narablog, pecinta kode, penggemar open source, pengguna GNU/Linux, dan penggemar Sherlock Holmes. Ikuti akun Twitter/Sebangsa @ramdziana

You may also like...