Siap Bertarung dengan Google Chrome (Lagi), Ada Apa dengan Mozilla Firefox?

Beberapa pekan terakhir, Firefox menjadi objek penting yang dibahas oleh banyak media teknologi .. teknologi terbuka khususnya. Sangat menarik! Namun, tak banyak yang mengerti fenomena apa yang benar-benar sedang terjadi pada proyek peramban bebas/merdeka dan open-source (FLOSS) Mozilla Firefox.

Oleh sebab itu, kami berusaha merangkum isu tersebut ke dalam laporan khusus ini.

Firefox tumbuh, kuasai pasar

Firefox merupakan perangkat lunak FLOSS satu-satunya yang menguasai pasar peramban web, terutama di tahun 2009. Sebagai pembuktian, pada tahun tersebut, Firefox memamerkan data pangsa pasar peramban yang dikumpulkan oleh Net Applications, StatCounter, dan AT Internet Institute.[1]

Net Applications menyimpulkan pangsa pasar yang diambil dari 160 juta pengunjung perbulan dan menghasilkan urutan,

  1. Internet Explorer

  2. Mozilla Firefox

  3. Safari

  4. Lainnya

StatCounter, layanan analisis trafik web populer lainnya, mengumpulkan data yang tak jauh berbeda dari Net Applications.

  1. Internet Explorer

  2. Mozilla Firefox

  3. Opera dan Google Chrome (garis grafis mepet, sulit untuk menentukan posisi atas)

  4. Safari

  5. Lainnya

Sedangkan AT Internet Institute cenderung menampilkan pangsa pasar untuk negara-negara Eropa. Tapi, dilihat dari datanya, ia tak jauh berbeda dari sebelumnya.

  1. Internet Explorer

  2. Mozilla Firefox

  3. Opera

  4. Safari

  5. Google Chrome

  6. Lainnya

Google Chrome tantang Firefox

Pada tahun 2008, Google merilis peramban Google Chrome (Chrome) dan Chromium. Chromium sendiri merupakan peramban open-source yang kodenya dipakai oleh peramban Chrome. Berbeda dari peramban penguasa pasar seperti Internet Explorer (IE) yang menggunakan mesin web Trident, Firefox yang menggunakan mesin Gecko, dan Opera yang menggunakan mesin Presto, Chrome menggunakan mesin WebKit. WebKit sendiri adalah mesin buatan Apple yang dibangun dari KHTML.

Secara teknis, saat itu Chrome dan Safari “kembar” karena menggunakan mesin sama sebelum Chrome beralih ke Blink (mesin berbasis WebKit) pada tahun 2013.

Sejak dirilis, pangsa pasar Chrome terus meningkat dan melibas pasar peramban lain, termasuk Firefox, dengan sangat mudah. Tepat pada 18 Maret 2012, Chrome menjadi peramban populer mengalahkan peramban underdog IE dengan persentasi 32,7 persen.[2]

Sampai sekarang, pasar Chrome terus naik, berbanding terbalik dengan Firefox yang terus menurun. Saat artikel ini ditulis, Pasar Chrome menginjak persentase 54,57 persen disusul Safari 14,59 persen, UC Browser 7,86 persen, dan Firefox 6,08 persen.

Pangsa pasar peramban
Figure 1. Pangsa pasar peramban Oktober 2017 (Statcounter.com)

Jelas! Saat ini Chrome menang, Firefox kalah.

Firefox tidak menyerah

Pasar Firefox yang terus anjlok bukan tanpa penyebab. Selain kinerjanya yang kurang apik, Firefox mulai memaksakan diri “menjadi” Chrome dengan menerapkan antarmuka Australis dan beberapa fitur lain yang tidak memuaskan pengguna. Firefox 29 yang dirilis pada 29 April 2014 adalah rilis terburuk yang terjadi lima tahun terakhir.[3]

Dunia bakal semakin buruk tanpa kompetisi, sehingga Mozilla harus memutar otak untuk menarik kembali pasar peramban di tengah pasar Chrome yang terus naik. Di titik ini, Mozilla sadar bahwa pembaruan pada beberapa rilis terakhir memang tidak berguna sehingga mereka mulai fokus meningkatkan mesin utama agar lebih tangguh dan stabil.

CEO Mozilla, Chris Beard menyampaikan kepada CNET Agustus lalu, “Firefox tidak menuruti pasar dan apa yang diinginkan pengguna. Para penggemar berat Firefox pun sekarang dengan senang hati menjadi pengguna Chrome.”.[4]

Pada bulan Oktober 2016, Mozilla mengumumkan proyek anyar Quantum, calon mesin anyar Firefox yang dibangun dengan Servo dan bahasa Rust. Tepat pada rilis Firefox 53, 18 April 2017, Firefox membenamkan Quantum Compositor sebagai rilis awal dukungan mesin tersebut.

Quantum dijanjikan bakal memantapkan Firefox dengan dukungan paralelisasi berperforma tinggi, GPU offloading, dan dukungan concurrency.

Sebelumnya, Mozilla juga mengumumkan proyek Electrolysis untuk memecah proses-proses Firefox, sehingga kinerja peramban ini terjamin lebih stabil. Mirip seperti apa yang dilakukan oleh Chrome (dan ini bagus ๐Ÿ˜‰ ). Electrolysis diperkenalkan di Firefox 48.

Terapkan WebExtension, buang addons lawas

Untuk menjadi Firefox generasi baru, Mozilla juga berminat menerapkan addons/ekstensi berbasis WebExtension. WebExtension merupakan format ekstensi peramban yang dipakai oleh Chrome dan Opera. Proyek penerapan dan standardisasinya sendiri didukung oleh Google, Opera, dan W3C Draft Community Group.[5]

API yang dipakai WebExtension pun sangat kompatibel dengan sistem multiproses Firefox.

Penerapan format ekstensi baru ini bukan tanpa pengorbanan, Mozilla harus menyingkirkan dukungan ekstensi berbasis XUL, maupun ekstensi bootstraped, SDK, dan Embedded WebExtension. Jadi jangan kaget kalau addons-addons yang sering Anda pakai sudah tidak diperbarui lagi, termasuk DownThemAll, FirefFTP, dan VimFX.

Firefox Quantum

Mulai rilis Firefox 57, peramban ini memiliki merek baru: Firefox Quantum. Dengan logo baru, sedikit tampilan baru, UX baru, mesin baru, Firefox Quantum menjadi rilis besar-besaran yang dengan tegas menantang kembali Google Chrome.

Mozilla mengklaim, Firefox Quantum memiliki performa 2 kali lebih cepat dan 30 persen lebih hemat memori dibanding Chrome.[6]

Firefox Quantum Beta

Kemarin kami mencoba Firefox 57 Beta, dibandingkan dengan Firefox 52 ESR yang terinstal di komputer yang sama, memang lebih cepat. Kami tidak melakukan benchmark, hanya mencobanya dalam beberapa hari dengan mengakses laman-laman yang biasa kami akses.

Akankah Firefox Quantum berhasil merebut pasar Google Chrome? Terlalu cepat untuk disimpulkan. Yang pasti, kompetisi peramban menjadi menarik lagi. Tahun ini pun belum bisa menjadi tahunnya Firefox, perlu beberapa bulan sebelum orang-orang kembali menyadari dengan kehadirannya, mencobanya, dan (mungkin) kembali menyukainya.


2. https://en.wikipedia.org/wiki/Google_Chrome#Market_share, diakses 7 November 2017 pukul 00.25 WIB
3. https://www.dedoimedo.com/computers/firefox-29-sucks.html, diakses 7 November 2017 pukul 00.48
5. https://developer.mozilla.org/en-US/Add-ons/WebExtensions, diakses 7 November 2017 pukul 13.33 WIB
6. https://www.mozilla.org/en-US/firefox/quantum/, diakses 7 November 2017 pukul 14.11 WIB

Ramdziana F Yustitianto

Ramdziana adalah seorang narablog, pecinta kode, penggemar open source, pengguna GNU/Linux, dan penggemar Sherlock Holmes. Ikuti akun Twitter/Sebangsa @ramdziana

  • f0xy

    saya menggunakan Firefox sejak ia bernama Phoenix. terima kasih atas rangkumannya.

    • Dan saat itu saya masih SD ๐Ÿ™‚ Sama-sama pak

  • Solihin Febrian

    saya masih suka chrome, di firefox tidak bisa menyimpan bookmark otomatis sesuai akun google layaknya chrome, jadi gak perlu backup bookmark

    • Firefox punya layanan Firefox Sync (dengan akun Firefox pastinya) sejak tahun 2014 ๐Ÿ˜‰

    • saya gk perlu tuh backup bookmark di ff klo mau pindah2 system, udah tersinkron sama akun firefox. apalagi skrng ada pocket makin gk perlu lagi sinkron. semua tersimpan didalam pocket.

  • Rania Amina

    Mantep euy rangkumannya!
    Masih menunggu DTA ditulis ulang …

  • Hans

    Tetap setia menggunakan firefox dr dulu smp skrg….

  • Dindin Hernawan

    Saya sudah merasakan bagus…dan sudah lama saya menantikan perubahan firefox ini…

    • Jangan-jangan, H+1 pasca rilis langsung masuk Xenta OS mas Dindin ๐Ÿ™‚

  • Suryo Adikusumo

    Artikel yang sangat menarik. saya sendiri sudah menjadi pengguna setia firefox sejak 2012. saya sudah make yg beta ini sekitar seminggu dan saya rasa perubahannya cukup dapat diperhitungkan…

    • Satu lagi testimoni pengguna Firefox Quantum. Terima kasih mas Suryo!

  • Ian

    Masih bahagia dengan firefox …. Pas update ke quantum … Emejing!! Tinggal nunggu update addons, kelar sudah ๐Ÿ‘Œ๐Ÿ˜‡๐Ÿ’ช๐Ÿ˜